Senin, 16 Desember 2019

Pengurusan jenazah


Tata Cara Mengurus Jenazah dalam Islam

  • 0
    Shares

Manusia tidak akan selamanya hidup, pasti ada masanya kematian itu datang menjemput. Kematian yang memisahkan kita dengan dunia, memisahkan kita dengan ayah, ibu dan sanak saudara. Ketika kita masih berada dalam kandungan ibu pada usia 4 bulan Allah swt telah menentukan takdir kita, baik itu hidup, mati, jodoh, dan rezeki.
“… dan tiap-tiap jiwa yang bernyawa pasti akan merasakan mati” (Q.S Al-Imran : 185)
Dalam Qur’an surat Al-Imran sendiri menjelaskan bahwasanya tiap jiwa-jiwa dari kita yang bernyawa pada akhirnya akan merasakan mati. Kematian bukan berarti ketika usia kita masih muda jadi waktu kematian masih lama dan bukan berarti orang yang sudah lanjut usia maka kematian akan segera datang menjempunya.
Kematian tidak mengenal waktu dan usia, kematian bisa datang kapan saja baik ketika kita masih bayi, anak-anak, tua maupun muda. Kematian tidak bisa dimaju-mundurkan, oleh karenanya kita memerlukan upaya agar selalu ingat dengan kematian salah satunya dengan takziah ketika ada sauadara kita yang meninggal dunia.
Tidak hanya agar kita selalu ingat dengan kematian, namun bertakziah juga mengajarkan kita tentang kepedulian antarsesama umat muslim, kepedulian untuk mengurus jenazah mereka yang telah wafat. Mengurus jenazah, mulai dari memandikan, mengkafani, menyalati dan menguburkan. Tentunya hal-hal tersebut harus dilakukan menggunakan prosedur atau cara yang sesuai dengan syariat Islam.
Nah kawan-kawan, berikut ini merupakan tata cara mengurus jenazah yang baik dan benar :
Daftar Bab  ☰ 

A. Perawatan Jenazah

Ketika seseorang sudah dinyatakan positif meninggal, maka ada beberapa hal yang perlu disegerakan oleh keluarganya dalam mengurus jenazah tersebut, yaitu memandikan, mengkafani, menyalati dan menguburkan.
Namun, kita juga perlu melakukan hal-hal berikut sebelum memandikan jenazah, diantaranya adalah memejamkan matanya dan memohonkan ampunan atas segala dosanya pada Allah swt. Setelah itu kita memerlukan kain untuk menutup seluruh badannya agar auratnya tidak kelihatan. Kemudian menempatkan jenazah tersebut di tempat yang aman dari jangkauan binatang.

B. Memandikan Jenazah

Dalam memandikan jenazah kita juga perlu memperhatikan beberapa hal, di antaranya yaitu mengenai syarat-syarat wajib memandikan jenazah, orang-orang yang mempunyai hak memandikan jenazah, dan kemudian tata cara memandikan jenazah itu sendiri.
Berikut adalah pembahasannya :

Syarat – Syarat Wajib Memandikan Jenazah

  1. Jenazah merupakan orang islam
  2. Terdapat/masih ada bagian tubuhnya walaupun sedikit.(misalkan ketika orang tersebut tertabrak kereta sehingga tubuhnya hancur berkeping-keping, namun masih ditemukan bagian tubunya seperti kaki, maka itu wajib untuk dimandikan).
  3. Meninggalnya bukan karena mati syahid (mati dalam peperangan ketika membela agama islam).
  4. Yang berhak memandikan jenazah
  5. Jika jenazah tersebut berjenis kelamin laki-laki maka yang wajib memandikannya juga laki-laki, perempuan tidak diperbolehkan memandikan jenazah tersebut kecuali istri dan mahramnya.
  6. Jika jenazah tersebut berjenis kelamin perempuan maka yang wajib meamandikannya adalah perempuan, laki-laki tidak diperbolehkan memandikan jenazah tersebut kecuali suami dan maharamya.
  7. Jika jenazah tersebut merupakan seorang istri, maka apabila suami dan mahram masih ada, yang lebih berhak memandikan adalah suami.
  8. Jika jenazah tersebut merupakan seorang suami, maka apabila istri dan mahramnya masih ada, yang lebih berhak memandikan adalah istri.
  9. Kemudian jika jenazah tersebut adalah anak laki-laki yang masih kecil, perempuan diperbolehkan untuk memandikannya. Begitu pula sebaliknya, jika jenazah tersebut anak perempuan yang masih kecil, maka laki-laki diperbolehkan untuk memandikannya.

Tata Cara Memandikan Jenazah

  1. Jenazah harus dimandikan di tempat yang tertutup, agar yang melihat hanya orang-orang yang memandikan saja.
  2. Jenazah di tempatkan di tempat yang tinggi, seperti dipan atau meja yang panjang.
  3. Menggunakan sarung unruk menutup aurat jenazah.
  4. Jenazah didudukkan atau disandarkan pada sesuatu, kemudian diusap perutnya dan ditekan pelan-pelan agar semua kotorannya keluar. Lalu yang memandikan menggunakan sarung tangan kiri untuk membasuh lubang depan dan lubang belakang jenazah, dan kemudian membersihkan mulut dan hidung jenazah, setelah itu mewudhukannya seperti wudhunya orang yang masih hidup.
  5. Membasuh kepala dan wajah jenazah dengan menggunakan sabun atau lainnya, kemudian menyisir rambutnya.
  6. Membasuh seluruh tubuh dimulai dari sisi kanan jenazah, kemudian sisi kirinya.
(disunahkan membasuh sebanyak 3 kali)

C. Mengkafani Jenazah

Kain kafan dibeli menggunakan harta dari orang yang meninggal tersebut. Apabila jenazah tersebut adalah laki-laki maka membutuhkan kain kafan tiga lapis, namun apabila jenazah tersebut adalah perempuan maka membutuhkan kain kafan sebanyak lima lapis, dan itu sudah termasuk yang digunakan sebagai pakaian dalaman/basahan jenazah.
Dalam HR.Muslim, Abu Salamah ra bercerita bahwa ia pernah bertanya pada ‘Aisyah ra. “Berapa lapiskah kain kafan Rasulullah saw.?” “Tiga lapis kain kafan putih.” Jawab ‘Aisyah.
Disunahkan pula untuk memberi wewangian pada kain kafan.

Tata Cara Mengkafani Jenazah

  • Membentangkan tali-tali pengikat kain kafan secukupnya.
  • Membentangkan lapis pertama kain kafan di atas tali tersebut kemudian ditambahkan wewangian.
  • Membentangkan lapis kedua kain kafan di atas lapis pertama kain kafan kemudian ditambahkan wewangian.
  • Membentangkan lapis ketiga kain kafan di atas lapis kedua kain kafan kemudian ditambahkan wewangian.
  • Letakkan jenazah pada kain kafan tersebut.
  • Tutup menggunakan kain kafan lapis ketiga dari sisi kiri ke kanan, lalu dari sisi kanan ke kiri.
  • Tutup menggunakan kain kafan lapis kedua dari sisi kiri ke kanan, lalu dari sisi kanan ke kiri.
  • Tutup menggunakan kain kafan lapis pertama dari sisi kiri ke kanan, lalu dari sisi kanan ke kiri.
  • Kemudian mengikat jenazah dengan tali-tali tadi.

D. Menyalati Jenazah

Rukun sholat jenazah ada delapan, yakni:
  1. Niat
  2. Berdiri bagi yang mampu
  3. Empat kali takbir
  4. Mengangkat tangan pada saat takbir pertama
  5. Membaca surat Al Fatihah
  6. Membaca sholawat Nabi
  7. Berdoa untuk jenazah
  8. Salam

Tata Cara Sholat Jenazah

1. Takbiratul ihram dan membaca niat :
Lafadz niat sholat jenazah (sebagai makmum) untuk jenazah laki-laki
اُصَلِّى عَلَى هَذَاالْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى
Ushollii ‘alaa haadzal mayyiti arba’a takbirootin fardhol kifaayati ma’muuman lillaahi ta’aalaa
Artinya: Saya niat sholat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai makmum karena Allah Ta’ala.
Lafadz niat sholat jenazah (sebagai makmum) untuk jenazah perempuan
اُصَلِّى عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى
Ushollii ‘alaa haadzihill mayyitati arba’a takbirootin fardhol kifaayati ma’muuman lillaahi ta’aalaa
Kemudian membaca surat Al Fatihah
Setelah takbiratul ihram, tangan diletakkan di atas pusar sebagaimana sholat pada umumnya, lalu membaca surat Al Fatihah.
2. Takbir kedua setelah itu membaca sholawat Nabi.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
Allohumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohim, innaka hamiidum majiid. Allohumma baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa Ibroohiima wa ‘alaa aali Ibroohim, innaka hamiidum majiid
Artinya: Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia
3. Takbir ketiga setelah itu membaca doa untuk jenazah.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
Allohummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu
Artinya: Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah dia. Bebaskanlah dan maafkanlah dia.
Untuk jenazah perempuan, doa singkat tersebut menjadi:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا
Allohummaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu ‘anhaa
4. Takbir keempat berdoa dengan doa untuk jenazah dan doa untuk orang-orang yang ditinggalkannya.
Sebagaimana diriwayatkan Imam Abu Dawud:
اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَ اغْفِرْ لَنَا وَلَهُ
Allohumma laa tahrimnaa ajrohu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfirlanaa walahu
Artinya: Ya Allah, jangan haramkan kami dari pahalanya dan jangan cobai kami sepeninggalnya. Ampunilah kami dan ampunilah dia.
Jika jenazahnya perempuan, maka doanya menjadi:
اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهَا وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهَا وَ اغْفِرْ لَنَا وَلَهَا
Allohumma laa tahrimnaa ajrohaa wa laa taftinnaa ba’dahaa waghfirlanaa walahaa
5. Salam
Yakni mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri sebagaimana sholat-sholat lainnya.

E. Menguburkan Jenazah

Dalam HR.Bukhari Muslim, Rasulullah saw menganjurkan “agar segera menguburkan jenazah orang yang meninggal”. Dan lebih baik jenazah tersebut dikuburkan pada siang hari, namun apabila dalam keadaan terpaksa diperbolehkan mengubur jenazah pada malam hari.
Kemudian berikut ini cara menguburkan jenazah yang baik, yaitu :
  • Jenazah dikuburkan ke dalam lubang yang tingginya sama dengan orang berdiri yang melambaikan tangannya ke atas, dan kemudian lebarnya adalah lebih dari satu jengkal.
  • Setelah itu jenazah wajib dimiringkan ke sebelah kanan dan menghadapkannya ke arah kiblat.
  • Kemudian setelah itu disunahkan untuk membuka ikatan tali jenanzah yang dimulai dari kepala.
Kita sebagai sesama manusia utamanya kaum muslimin sudah menjadi kewajibkan mengurus jenazah muslim lainnya ketika meninggal dunia.
Nah, teman-teman semoga dengan mempelajari cara-cara mengurus jenazah tersebut mulai dari perawatan jenazah, memandikan jenazah, mengkafani jenazah, menyalati jenazah dan menguburkan jenazah maka kepedulian kita antarumat muslim semakin bertambah. Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin…
Pustaka:
  • BK, M. (2018, April 24). Tata Cara Sholat Jenazah, Niat, Bacaan, Doa dan Keutamaan. Retrieved Januari 2019, from bersamadakwah.net
  • Khoiron. (2018, Januari 18). Tata Cara Memandikan Jenazah. Retrieved Januari 2019, from NuOnline
  • Khoiron. (2018, Januari 31). Tata Cara Mengubur Jenazah Menurut Hukum Islam. Retrieved Januari 2019, from NuOnline
  • NN. (n.d.). Materi PAI Kelas 11 SMA kurikulum 2013. Retrieved Januari 2019, from Bukupaket.com

  • 0
    Shares
OLEH: 

One Reply to “Tata Cara Mengurus Jenazah dalam Islam”

  1. h.darman bakir
    Jazzakalloh khoiron ust. atas sharing ilmunya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *
 

Sabtu, 19 Oktober 2019

Sejarah kemenangan umat islam

Kuliah subuh tgl 19/10/2019
DR. Didin Izzudin MA.
-----------------------------------------------

"7 Fase Sejarah kemenangan
Umat Islam".
Q : 48 : 68.

cara pandang pemahaman tentang penafsiran Alquran : Tafsir Ibu Katsir.
Tafsir Kurai Sihab. Tafsir bil Isyarah.

Tafsir (dgn kejernihan hati). Contoh saat pidato nabi terakhir nabi menerima wahyu  Surat Atmaidah. Tafsir Said Ramadhan Al Gauty (asli Turky). Kata beliau Islam akan mengalami 7fase kemenangan.

Surat Alfatah :20. Ayat ini turun th ke 6 disaat nabi saat akan haji (karena perjanjian udaibiyah).

Kemenangan itu terjadi di th ke 9.

1.Fase kemengan dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW.

2.Fase Sahabat Kulafah Rasyidin.

3.Fase Daulah Umaiyah keras (perang) utk penyelesaian  (selat Gibral).

4.Fase Daulah Albasiyah..masa kasih sayang sesama tapi keras terahadap .(permusuhan pada masa ini terjadi dgn ideologi Alquran dihapus). (Sunni-Siah)  mulai berlawanan.

5.Fase masa ini masa dimana orang2 menggali ilmu pengetahuan ( Al-Razi /Ibnu Sina/)

6.Fase Turky Usmany..Pada masa ini setiap tempat yg telah dikuasai selalu ada pendirian Masjid..!

7.Fase  Masa ini islam Jaya dengan kondisi yg di dalam nya islam dihantam oleh kondisi bermacam2 agama..!

Terima kasih

Wassalam,

DKM Masjid al hijrah

Minggu, 13 Oktober 2019

Tata cara proses penanganan orang meninggal

Kuliah subuh sabtu 12 okt 19

Ustadz Bahaudin rawyan

Ketua tim pengurusan jenazah masjid jami bintaro sektor 1

Mentalqin adalah menuntun seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat syahadat Laa Ilaaha Illa Allah. 

Mentalqin seseorang yang akan meninggal dunia disunnahkan bagi orang yang ada di sisi orang yang akan meninggal dunia, 
sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam:
لقنوا موتا كم لا إله إلا الله
“Tuntunlah seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat: ‘Laa ilaaha illa Allah’” 1

Dalam riwayat yang lain:
من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة
“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah “Laa ilaaha illa Allah” maka akan masuk surga”

Kewajiban Terhadap Jenazah
Adapun soal-soal yang bersangkutan dengan jenazah ada empat.

Jenazah tersebut hendaklah 
* dimandikan
* dikafankan 
* disolatkan dan 
* dikuburkan .
Keempat- empat perkara ini ‘ Fardu Kifayah’ hukumnya bagi umat Islam, apabila yang meninggal dunia itu orang yang beragama Islam. 

Bila pekerjaan itu ditinggalkan berdosalah semua orang Islam di negeri itu tetapi bila ada di antara mereka yang mengerjakannya, maka sekalian umat Islam di negara itu lepaslah dari dosa.

DKM Masjid Al'hijrah akan mengadakan pelatihan pengurusan jenazah yang diasuh ustadz bahaudin selaku praktisi / ketua tim pengurusan jenasah masjid jami bintaro

Minggu, 22 September 2019

Sirah sahidah ibunda nabi Muhammad Saw Siti Aminah



Kisah Ibunda Rasulullah S.A.W, Aminah Binti Wahab


Kuliah subuh sabtu, 21 September 2019

DR.Didin Izzudin MA

(Dosen UIN)


Aminah binti Wahab adalah ibu yang melahirkan Muhammad, Nabi umat Islam. Aminah menikah dengan Abdullah. ia meninggal pada tahun 577 ketika dalam perjalanan menuju Yatsrib untuk mengajak Nabi Muhammad mengunjungi pamannya dan melihat kuburan ayahnya.
                
           

   
               

Bunda Aminah adalah pemimpin para ibu, karena ia ibu Nabi Muhammad SAW yang dipilih Allah SWT sebagai Rasul pembawa risalah untuk umat manusia hingga akhir zaman. Baginda Muhammadlah penyeru kebenaran dan keadilan serta kebaikan berupa agama Islam.

Perumpamaan wanita semacam ini di mata manusia tak bisa disamakan, kecuali dengan mutiara yang tersimpan sehingga tidak sembarangan orang dapat mengotorinya. Tak seorang pun mampu mengusik kemuliaan dan iffahnya, dari wanita semacam inilah bunga mawar Bani Zuhrah, Aminah binti Wahab.

Seorang wanita berhati mulia, pemimpin para ibu. Seorang ibu yang telah menganugerahkan anak tunggal yang mulia pembawa risalah yang lurus dan kekal, rasul yang bijak, pembawa hidayah.

Cukuplah baginya kemuliaan dan kebanggaan yang tidak dapat dimungkiri, bahwa Allah Azza Wa Jalla memilihnya sebagai ibu seorang Rasul mulia dan Nabi yang terakhir.

Berkatalah Baginda Nabi Muhammad SAW tentang nasabnya:

“Allah telah memilih aku dari Kinanah, dan memilih Kinanah dari suku Quraisy bangsa Arab. Aku berasal dari keturunan orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik.”

Dengarlah sabdanya lagi:

“Allah memindahkan aku dari sulbi-sulbi yang baik ke rahim-rahim yang suci secara terpilih dan terdidik. Tiadalah bercabang dua, melainkan aku di bahagian yang terbaik.”

Bunda Aminah bukan cuma ibu seorang Rasul atau Nabi, tetapi juga wanita pengukir sejarah. 

Kecintaan rosul kepada ibunda sangat membekas terlebih beliau ditinggal ibunda ketika masih kecil dan dalam perjalanan bersama.


DKM Masjid Al' Hijrah Vila Cendana

Selamat Bekerja DKM 2025- 2028

  Sabtu pagi 8 November 2025 bada kuliah subuh dengan suasana keakraban jamaah setelah mendapat siraman rohani diadakan Serah Terima Jabatan...